
Realita, Kontrol, Pilihan, dan Kunci
Juli 31, 2008Oleh: Hingdranata Nikolay
Apa yang membedakan orang bahagia dan tidak bahagia?
Apakah JUMLAH materi? Apakah TERCAPAINYA keinginan?
Coba lihat sekeliling, ada orang dengan jumlah materi berlimpah yang bahagia, ada juga yang tidak bahagia.
Ada orang dengan jumlah materi yang minim yang bahagia, ada juga yang tidak.
Ada orang yang keinginannya tercapai tapi tidak bahagia, ada juga yang bahagia.
Ada yang keinginannya tidak tercapai, tapi bahagia, ada juga yang tidak.
KUNCI-nya?
KONTROL terhadap REALITA.
Setiap orang punya REALITA berbeda-beda, dan persepsi dalam tingkatan mana orang tersebut bisa MENGONTROL REALITA-nya akan menentukan seberapa bahagia dia.
Jika dia merasa bisa mengontrol REALITA-nya, dia bahagia.
Dan sebaliknya, seberapapun pencapaiannya, seberapa banyak penghasilannya, apabila dia tidak merasa punya KONTROL terhadap REALITA-nya, dia tidak berbahagia.
Tidak ada KUNCI yang sama untuk mempunyai perasaan bisa MENGONTROL REALITA (sense of control), karena REALITA setiap orang juga berbeda-beda.
Bahkan untuk mencari KUNCI tersebut pun merupakan PILIHAN. Ada yang memilih untuk mencari, ada yang memilih untuk tidak mencari.
So, bagaimana REALITA Anda?
Apakah Anda merasa memegang KONTROL terhadap REALITA Anda?
Apakah Anda MEMILIH untuk mencari KUNCI untuk bisa memegang KONTROL terhadap REALITA Anda?
Sumber : http://www.inspirasiindonesia.com

2 RENUNGAN mengenai SAAT-SAAT SULIT
Juli 31, 2008Oleh: Hingdranata Nikolay
“When your dreams turn to dust, vacuum”
~Author Unknown
Kapan terakhir kali impian Anda hancur berkeping-keping?
Kapan terakhir kali Anda melihat harapan Anda menjadi debu?
Sesuai anjuran di atas, daripada kita berlama-lama meratapi dan bermandi debu, yang malah bisa membawa masalah lain, sedotlah debu tersebut dengan vacuum cleaner!
Get over it! Move on!
Ini sama seperti anjuran bijak klasik yang mengatakan persoalannya bukan apakah kita jatuh atau tidak, tapi seberapa lama kita berada di bawah.
Kalau kita mau melihat ke belakang kita mungkin sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali impian kita hancur saking banyaknya, dan setiap kali pula kita seolah sudah tahu bahwa meratapi kegagalan tersebut tidak berguna.
Pertanyaannya bukan apakah kita boleh meratapi atau tidak, karena kekesalan, kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan sejenisnya, adalah alami.
Pertanyaannya adalah seberapa lama kita akan membawa impian yang hancur ini menjadi bagian dari hidup kita, untuk kemudian kita lahirkan menjadi ketidakpercayaan diri, dendam, sakit hati, stress, depresi berkepanjangan, dan lain-lain.
Mekanisme pertahanan tubuh kita seolah sudah diprogram, bahwa ketika sebuah masalah besar datang, kita akan menghadapi 2 situasi: kita mati, atau bertambah kuat.
Jadi kalau impian kita yang sekarang mati dan kita tidak mati bersamanya, maka hanya kemungkinan kedua yang eksis, yakni kita bertambah kuat.
Untuk direnungkan: berapa lama kita MEMILIH untuk meratapi impian kita yang telah jadi debu?
“It’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer”
~Albert Einstein
Kita mungkin sudah sangat sering mendengarkan kisah-kisah heroik mengenai para tokoh yang dengan gagahnya bisa melewati berbagai hambatan atau masa-masa sulit, dan pada akhirnya bisa berseru kegirangan dalam kesuksesan mereka.
Sure, itu kisah-kisah yang luar biasa, karena itu pula beberapa dari kita juga berpendapat bahwa itu terjadi kerena para tokoh itu orang luar biasa dan mereka hanya biasa saja.
Kembali lagi, saya mau mengajak sahabat sekalian untuk melihat kembali ke belakang sejenak.
Ada PR di masa sekolah yang dengan sedikit atau banyak paksaan, melalui godaan ngantuk, TV, main, dll, kita akhirnya bisa selesaikan dan dapat nilai yang lebih baik.
Ada pekerjaan yang dengan sedikit lebih banyak paksaan, melalui keletihan fisik dan mental, terselesaikan juga, bahkan kadang menghasilkan sesuatu yang luar biasa, bahkan kadang kita sendiri bertanya “Bagaimana saya bisa melakukan ini?”
Ada situasi, yang dengan sedikit lebih banyak usaha untuk mengontrol emosi, bisa lebih kondusif, dan kita juga berkata “untung tadi saya tahan emosi saya”
Atau saat kita berada di ujian dalam hubungan kita dengan lawan jenis, dan saat dengan sedikit usaha ekstra melalui masalah tersebut, kita hari ini bisa mempertahankan hubungan tersebut.
Kita akan menemukan beberapa, mungkin juga banyak bukti bahwa dengan bertahan dalam masalah kita bisa meraih kemenangan yang lebih manis.
Seperti kata Einstein di atas, seberapa lama kita bersedia MEMILIH untuk bertahan dan menghadapi masalah?
Seberapa besar usaha ekstra yang ingin kita keluarkan?
Seberapa berharga hasil yang ingin kita peroleh sehingga kita MEMILIH akan bertahan seberapa lamapun dalam masalah tersebut?
Sumber : http://www.inspirasiindonesia.com/

Faktor Memperpanjang Usia? Melayani Orang Lain?
Juli 31, 2008Oleh: Hingdranata Nikolay
Saat browsing di Microsoft Encarta Library semalam, saya menemukan sebuah data yang sangat menarik. Saya share kepada rekan-rekan sekalian. Please be reminded, ini hanya sebuah data yang tidak pernah ada kemutlakan! Dan saya hanya punya data estimasi dari Encarta tahun 2003. Tapi tetap menarik untuk disimak!
Saya sedang mencari data dari beberapa negara mengenai persentase masyarakat yang bekerja di dunia layanan (jasa) di berbagai negara. Secara iseng saya sekalian melihat angka rata-rata usia yang diperkirakan sesuai data tahun-tahun dan statistic sebelumnya. Dan saat menelusuri satu per satu, saya menemukan sebuah relasi yang cukup konsisten!
Di negara-negara yang masyarakatnya sebanyak 60% atau lebih bekerja di bidang pelayanan (jasa), penduduknya rata-rata mempunyai ekspektasi hidup yang lebih lama!!! Interesting!
Mari saya tunjukkan apa yang saya maksudkan.
Coba kita lihat, negara2 yang 60% atau lebih penduduknya bekerja di bidang layanan jasa, seperti Kanada (74%), Inggris (72%), USA (75%), Prancis (74%), Australia (70%), Italia (68%), Jerman (63%), rata-rata usia estimasi adalah dari 75 sampai 84 tahun. Bandingkan dengan negara-negara seperti Brasil (57%), Rumania (52%), Rusia (55%), Bulgaria (44%), yang rata-rata estimasi usianya dari 67 – 75 tahun.
Lalu kalau kita menilik Asia, kita mendapatkan Jepang dengan persentase penduduk di bidang jasa 63%, Singapura (68%), Korea Selatan (61%), yang estimasi usianya dari 71 sampai 84 tahun. Bandingkan dengan negara-negara seperti Korea Utara (30%), Cina (13%), India (20%), Malaysia (50%), Filipina (46%), Iran (45%), Thailand (33%) yang usia maksimal diestimasi 66 – 74 tahun.
Indonesia di mana? Kita mempunyai 37.1% penduduk bekerja di bidang service, dan guess what, estimasi usia penduduk Indonesia? 66 – 71 tahun!
Pengecualian yang saya temukan, misalnya negara-negara seperti Saudi Arabia, Kuwait, Irak, dan Brunei. Yang persentase penduduknya yang bekerja di bidang jasa di bawah 50%, tapi mempunyai estimasi hidup yang cukup panjang. Mungkin karena kaya akan minyak dan hidupnya senang? J
Interesting, isn’t it?
Apakah ini kabar baik bagi kita yang bekerja di bidang jasa? Yang melayani orang lain? Walau kita hidup di Indonesia? Well, kalau itu belief yang berguna untuk Anda, live with it!!!
Entah benar atau tidak relasi di atas, valid atau tidak hubungannya, sah atau tidak data yang ada di Encarta, apalagi dari data 2-3 tahun lalu, yang ingin saya katakan adalah: it doesn’t matter!
Melayani adalah sikap mulia! Kalau kita mendapatkan usia panjang karenanya, itu adalah bonus buat kita! Relasinya yang saya tahu valid, sah, dan solid, adalah bahwa apabila kebaikan pelayanan kita bisa kita wariskan dan dinikmati turun-temurun dari generasi ke generasi, itu sama dengan usia kita yang tidak pernah putus, bukan?
Saya belum pernah melakukan studi khusus untuk ini, tapi setidaknya saya tahu, kakek saya, yang hidupnya dari kecil melayani orang lain di toko rotinya yang sederhana, dengan panggangan tradisional, sampai hari ini, usianya sudah di atas 90 tahun, masih ingin berjualan roti! Salah satu kakek saya juga yang dulunya bekerja di restoran dan hobbynya memasak untuk cucu-cucunya, beberapa tahun lalu meninggal dalam usia 80 tahun. Yang saya tahu secara pasti, mereka melayani dengan hati! Mungkin itu juga yang membedakan. Maybe.
So, let’s serve others! I mean, really serve with all our heart!
Today, right now!

Memecahkan Masalah Ala Wright Bersaudara Oleh : Elsa Sakina
Juli 7, 2008Mark Eppler mengatakan dalam bukunya, The Wright Way, bahwa ada tujuh prinsip untuk memecahkan masalah yang bisa kita ambil dari Wright bersaudara.
Seperti yang kita tahu, Wilbur dan Orville Wright berhasil menerbangkan manusia ke udara pada tahun 1903. Selain memberikan sebuah karya yang bermanfaat, mereka juga memberi pelajaran tentang bagaimana kita harus memecahkan masalah.
Hebatnya, Wright bersaudara mampu memecahkan masalah teknis yang rumit tanpa bantuan dari pihak luar. Apa yang membuat mereka sukses bukanlah pendidikan yang tinggi, tapi kekuatan pikiran mereka. Prinsip pemecahan masalah ala Wright bersaudara ini sering kali digunakan untuk mengambangkan bisnis.
Tujuh prinsip yang mereka terapkan adalah:
1. Constructive Conflict: Mereka dahulu sering mengalami konflik tentang sebuah masalah yang muncul, tapi mereka tidak menghindari konflik tersebut untuk kemudian menemukan jawaban atau jalan keluar yang tepat guna menyelesaikan masalah yang akan datang berikutnya.
2. Tackle worst thing first: Mereka mencoba menyelesaikan masalah yang paling sulit terlebih dahulu, baru kemudian masalah yang lebih mudah. Mereka melakukan ini dengan membagi-bagi tingkat kesulitan dalam membuat pesawat terbang. Masalah yang paling sulit mereka tangani terlebih dahulu, karena jika bagian ini tak bisa selesai, keseluruhan masalah juga tak akan selesai.
3. Just plain tinkering: Mencari pendekatan untuk menyelesaikan masalah ketika mereka mencoba memahaminya.
4. Rigid flexibility: Pikiran mereka fleksibel dengan “berpikir di luar kotak”, mencoba memecahkan suatu masalah dengan sudut pandang yang berbeda.
5. Forever learning: Mereka tak pernah berhenti belajar.
6. Methodical meticulousness: Bersikap cermat dan sesuai metode dalam pendekatan mereka terhadap masalah. Misalnya, mereka mencatat tiap apa yang mereka kerjakan. Mereka tidak asal dalam usaha mereka.
7. Equitable teamwork: Mereka menyelesaikan masalah dengan kelompok orang dengan tujuan yang sama.
Dengan menggunakan prinsip tersebut, Wilbur dan Orville bisa meminimalisasi biaya untuk membuat pesawat. Ini tentunya sangat cocok jika diterapkan dalam bisnis Anda
(Referensi: scholar.lib.vt.edu/ejournals/JITE/v42n1/kraft.html)
Salam Sukses,
Elsa Sakina
http://inspirasi-motivasi.blogspot.com

Tindakan Nyata!.. Bukan Hanya Sekedar Kata-kata Oleh : Pitoyo Amrih
Juli 7, 2008Beberapa hari lalu saya kebetulan berkesempatan berdiskusi panjang lebar dengan salah seorang pakar teknologi solar energy dari negri Jerman. Dia telah lebih dari duapuluh tahun sebagai praktisi di aplikasi pemanfaatan energi surya. Sempat bercerita kepada saya, bahwa ini adalah kali pertama dia berada di kawasan Asia, juga di Indonesia tentunya.
Setiap kali bercerita berdiskusi kepada saya, tak henti-hentinya dia begitu mengagumi sumber daya energi matahari yang –dia sebut- begitu berlimpah, karena letak geografis Indonesia yang berada di khatulistiwa. Maklumlah, saya bisa mengerti apa yang ada di kepalanya. Dia seorang ilmuwan yang menekuni energi surya. Ketika pertama kali ke Indonesia dan melihat sendiri betapa sinar matahari bersinar begitu terang di sini sepanjang hari –tidak seperti di tempat asalnya, pada musim panas sekalipun-, saya bayangkan bak seperti seorang yang haus di padang pasir dan mendapati sebuah oase.
Beberapa kali dia lebih suka mengajak saya berdiri di udara terbuka dan merasakan bahwa betapa energi sinar matahari di sini sangat besar kalau saja bisa dimanfaatkan.
Fase pertama dia begitu kagum akan sinar matahari di sini, dan beberapa saat kemudian sampai juga dia ungkapkan keheranannya, mengapa penelitian dan pengembangan akan pemanfaatan energi surya ini, tidak begitu populer di sini. Saat itulah saya juga merasa ada yang salah dengan kita-kita sebagai bangsa ini.
Dia coba beri gambaran tentang negrinya di Jerman, dimana dia hitung secara kasar energi iradiasi matahari di sana rata-rata sepanjang tahun mungkin hanya sekitar enampuluh persen dari energi iradiasi matahari di sini. Di sana, terutama sepuluh tahun terakhir ini, industri pembangkit listrik maupun kolektor panas begitu cepat pertumbuhannya. Dia coba beri angka bahwa tahun lalu saja terealisasi instalasi panel surya seluar 20.000 m2! Anda bisa bayangkan kalau ditempat saya mungkin hampir sebanding dengan luasan satu kelurahan! Dan itu bisa menghasilkan energi panas pada kondisi iradiasi maksimal sampai sekitar 8 Megawatt! Mungkin setara dengan energi listrik sekitar 2 Megawatt! Rata-rata mungkin duaribu rumah tangga bisa terlayani di tempat kita!
Jujur, saya hanya melongo terbengong mendengarkan angka-angka asumsi yang dia sampaikan.
Saya renungi kemudian bahwa angka-angka diatas bisa jadi terlalu kasar dan terlalu optimis, belum memperhitungkan tingkat efisiensi, dan konsitensi ketersediaan sumber panas matahari itu sendiri. Dengan artikel ini pun saya tidak bermaksud untuk mengecilkan arti upaya-upaya yang bisa jadi telah dilakukan oleh para ahli di bidang ini di negri kita sendiri. Dari perguruan tinggi mungkin, atau dari lembaga Ristek dari pemerintah.
Apa yang saya maksud dari cerita saya diatas bahwa, kita –juga termasuk saya tentunya- seharusnya akan muncul pertanyaan di kepala, “kemana saja kita selama ini..?”. Entahlah, terkadang saya merasa, kita secara kolektif sebagai bangsa, memiliki resistansi yang terlalu tinggi terhadap kondisi yang tidak kita inginkan. Kita mungkin terlalu terlena, seperti ungkapan Koes-Plus bahwa kita ‘terlalu’ merasa bahwa kita hidup di ‘Kolam Susu’. Sehingga itu semua membuat kita terlalu manja. Menghadapi masalah, lebih suka ‘merengek’ dari pada melihat itu semua sebagai suatu tantangan itu dapat melakukan sesuatu yang baru.
Kita lihat, ungkapan marah terhadap kenaikan BBM sampai sekerang belum juga usai. Tapi masalah yang timbul tidak kunjung teratasi bila kita hanya selalu saja marah. Sudah saatnya kita, terhadap setiap masalah yang timbul untuk kemudian selalu bersemangat merespon : “..keadaan memang menyesakkan,.. kira-kira apa yang kita masing-masing bisa lakukan…?!”. Tidak hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata!
4 Juli 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga

Klik, Hidup Anda Telah On!! Oleh : MARIANI NG – Certified Meta-Masters Practitioner of NS-NLP
Juli 7, 2008Hari yang terik, saya malas keluar dari ruangan ini. Meskipun tahu ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan hari ini di Jakarta, ada janji meeting dengan seorang klien (kalau sekretarisku belum berhasil menggeser jadwalnya), ke bank (kalau istriku belum berhasil atur jadwal di sela-sela istirahatnya), urus dokumen di kantor notaris, ke kantor. Ah … apalagi ke kantor, banyak sekali yang harus diselesaikan. Mulai dari laporan anak buah hingga surat-surat yang harus diperiksa dan ditandatangani. Belum lagi beberapa hal yang mesti diselesaikan, walau hanya via telpon!! Hahh, bukankah via telpon bisa dilakukan dari vila ini? Ah, malas …..!!!
Saya pandangi saja pohon-pohon hijau dari kejauhan di kaki gunung sana. Alangkah indahnya kalau bisa hidup selamanya di sini, alangkah indahnya kalau bisa terus menikmati keindahan alam ini. Tidak perlu terus menerus terlibat dalam hiruk pikuk kesibukan kantor yang monoton, tidak perlu terjebak dan bermacet ria di kota metropolitan. Duh!!!
‘Ting!’, bunyi keluar dari laptop yang diletakkan di atas meja ruang tamu. Sudah beberapa hari saya berdiam diri di vila sepi ini, membawa serta setumpuk pekerjaan dan laptop lengkap dengan sambungan internetnya. Rencana semula mau kerja di tengah kesejukan pegunungan ini, rencana mau mengumpulkan energi agar bisa lebih produktif lagi ketika kembali nanti. Entah sampai kapan. Karena sudah 1 minggu saya tinggal di sini, sampai sekarang masih duduk menikmati pegunungan indah sambil malas-malasan membuka pekerjaan yang seharusnya sudah diselesaikan beberapa hari lalu.
‘Ting!’, bunyi lagi.
Saya pandangi laptop di meja kecil depan sofa, yang sudah nyala dari kemarin malam. Selama di sini saya sibuk YM (Yahoo Messenger) dengan beberapa teman yang tersebar di beberapa kota. Ada kesenangan tersendiri, bercanda dan meledek mereka, diskusi ringan tidak menentu arah. Lumayan untuk menghilangkan kepenatan dan kejenuhan kerja selama ini. Benarkah? Ah…!! 5 malam berturut-turut saya YM-an, membuat ketagihan – bukannya tambah relaks, malah tambah seru. Ada hal-hal tertentu yang membuatku tidak mau lepas dari layar di depan. Bebas ber-ekspresi (toh tidak ketemu orangnya ini), bebas curhat (toh yang bersangkutan tidak tahu ekspresi wajahku), bebas meledek tanpa batas …
Saya sadari semuanya memang maya, tapi mengasyikkan bisa sejenak keluar dari dunia nyata yang penuh kesibukan ini. Sejenak? Jantung ini tiba-tiba berdetak kencang. Sudah seminggu saya di sini, sementara deadline beberapa pekerjaan sudah terlampaui, belum lagi ada beberapa hal yang perlu di follow-up minggu ini!!
Ada kejengahan, dan rasa lelah tiba-tiba menyergap, walau saya baru selesai mandi. Walau baru beberapa menit lalu saya menikmati kesegaran pagi hari di pegunungan ini, relaks dan segar.
‘R u thr?’, ketikan muncul di layar.
Saya pandangi saja. ‘Apakah saya di sini?’. Secara fisik saya di sini, duduk persis di depan laptop, bahkan perasaan mengasyikkan-pun muncul menggoda mengajak untuk masuk kembali ke dunia maya tersebut, yang pasti mengasyikkan. ‘Am I here?’, tanya saya kembali ke diri sendiri.
‘Apa yang telah saya lakukan selama ini?’, pikiran mulai menerawang kembali ke hari pertama saya masuk ke vila ini. Bermula dari ide agar bisa istirahat sambil bekerja di sini, sambil menikmati keindahan alam yang selama ini sangat saya rindukan. Berharap ada kedamaian dan ketenangan ketika berada di tengah kesunyian dan keheningan pegunungan yang sejuk ini sehingga bisa lebih produktif menyelesaikan masalah. Tapi ternyata tidak ada ketenangan, apalagi kedamaian. Hati saya resah selama 2 hari pertama, pikiran tidak menentu di antara beberapa konflik, antara kehidupan pribadi dan profesional. Atas penentuan masa depan bisnis dan masa depan saya sendiri, atas keputusan orangtua dan keputusan RUPS. Selanjutnya ditambah resah lagi karena asyik di dunia maya, sambil tetap meresahkan pekerjaan dan masalah yang tertunda. Double resah!!
Lalu apa yang telah saya lakukan? Keputusan apa yang telah saya pilih? Rencana apa yang telah saya susun? Tidak ada!! Karena ternyata konflik di Jakarta tetap menjadi konflik di sini, keresahan di Jakarta tetap menjadi keresahan selama di sini (malah tambah). Memang saya merasa lebih ‘relaks’ dan ‘tenang’ beberapa malam ini, tapi bukan karena penyelesaian atas keresahan awal. Itu karena saya telah berhasil ‘melarikan diri’ sejenak ke dunia maya, ke dunia tidak nyata dimana memang awalnya tidak ada keresahan dan konflik.
Masalah tetaplah masalah, konflik tetaplah konflik selama saya tidak berani menghadapinya. Yang harus saya hadapi sebenarnya bukanlah keresahan atau kejenuhan, tapi pikiran sendiri. Pikiran yang selalu ingin lari dari kenyataan, pikiran yang selalu ingin mencari jalan singkat untuk tenang tanpa berusaha menangani permasalahan itu sendiri. Ketenangan dan kedamaian bukan berasal dari luar, tapi justru bersumber dari dalam diri sendiri. Ah!! Sudah berapa lamakah saya berada dalam kebingungan ini? Sudah berapa lamakah saya berada dalam kehidupan seperti ini? Sudah berapa banyakkah saya mensia-siakan hidup ini?
‘Ting!’, bunyi lagi di laptop. ‘R u thr?’
‘No, i’m not’. Disusul dengan klik tegas, ‘send’.
Saya menghentakkan kaki berdiri meninggalkan laptop itu, menuju meja makan dimana tergeletak beberapa dokumen yang sudah menunggu selama beberapa hari. Inilah yang membuat hidup ini lebih hidup. Satu tantangan tersendiri untuk menangani rutinitas yang konon membuat jenuh, satu keasyikan tersendiri untuk berani mengambil keputusan di tengah konflik. Dan satu keberanian untuk memulai sudut pandang baru. Karena itu berarti kita telah menang atas diri sendiri, itu berarti kita telah menjadi tuan rumah atas hidup sendiri. Kemanapun saya pergi, toh sangat bergantung dari apa yang ada dalam pikiran dan perasaan diri sendiri, yang selalu dibawa kemanapun saya pergi. Mau di Jakarta, mau di sini, sama saja!! Apapun yang terjadi di dunia nyata, sangat tergantung dari bagaimana kita mengartikannya. Hidup ini memang seru, tapi indah!!

What Is Success Oleh : Peter Lim
Juli 7, 2008“Attaining peace of mind, happiness, satisfaction, inner strength, spiritual enlightenment and realizing the inner self is spiritual success” Remez Sasson
Setiap orang memiliki definisi yang berbeda mengenai makna sukses. Seorang dokter akan mengatakan sukses jika berhasil menyembuhkan pasiennya. Lain lagi bagi seorang guru, dia akan merasa sukses jika anak didiknya berhasil menyerap ilmu yang dia transferkan. Sedangkan Marketer akan mengatakan sukses jika produknya berhasil diserap pasar. “When the mind thinks of success, the outside world mirrors these thoughts” Remez Sasson. Disamping itu, masih banyak yang salah mengerti akan “faktor penyebab” berhasilnya diraih sukses, antara lain :
- Menganggap sukses identik dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Kenyataannya, tidaklah selalu demikian. Banyak dijumpai orang – orang yang tingkat edukasinya rendah (bukan Sarjana / tidak samapi tamat SMA) tetapi sukses dalam bisnis bahkan jadi konglomerat. Mereka – mereka ini bisa sukses karena piawai dan jeli melihat peluang yang ada. “Your mind is the generator of failure, and also the generator of success” Remez Sasson
- Menganggap sukses identik dengan tidak melakukan kesalahan. Siapa yang tidak akan pernah melakukan kesalahan ? Justru karena melalui kesalahanlah, Thomas Alfa Edison sukses menemukan listrik. “Strong people make as many mistakes as weak people. Difference is that strong people admit their mistakes, laugh at them, learn from them. That is how they become strong” Richard Needham
- Menganggap sukses identik dengan kerja yang tanpa adanya batasan waktu. Kerja tanpa adanya batasan waktu, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak professional pada pekerjaannya karena tidak memiliki time management. Seorang professional, tahu benar kapan harus mengawali dan mengakhiri pekerjaannya dengan hasil yang terbaik. Professionalism : It’s NOT the job you DO, It’s HOW you DO the job.
- Menganggap sukses identik dengan birokrasi yang sudah ditentukan. Di era yang serba praktis, semua bentuk birokrasi yang bertele – tele, complicated dan rumit, sudah sewajarnya disederhanakan. Karena selain tidak efisien, juga akan menurunkan produktivitas. “Professionalism knows how to do it, when to do it, and doing it” Frank Tyger
- Menganggap sukses identik dengan petunjuk atasan. Petunjuk dibutuhkan jika acuan kerja belum ada atau masih ragu dan bimbang. Kemandirian dan kreativitas tidak akan timbul atau berkembang jira selalu tergantung pada orang lain. “Professional are people who do jobs well even when they don’t feel like it”
- Menganggap sukses identik dengan keberuntungan. Tanpa adanya usaha yang ulet, semangat dan serius, tidaklah mungkin keberuntungan akan mendatangi diri seseorang ibarat hujan emas dari langit. “The golden opportunity you are seeking is in yourself. It is not in your environment; it is not in luck or chance, or the help of others; it is in yourself alone” Orison Swett Marden
| - Menganggap sukses identik dengan banyak uang. Sejujurnya, uang memang dibutuhkan tetapi jika tidak tahu cara memanfaatkannya secara bijaksana maka seseorang tidak saja akan menjadi budak bagi uangnya tetapi juga tidak akan bisa menjadi tuan bagi uangnya. “Money is better than poverty, if only for financial reasons” Woody Allen
- Menganggap sukses identik dengan pengakuan. Logikanya, sukses yang sesungguhnya adalah didasarkan oleh apa yang tertampak / nyata dan bukanlah dikarenakan oleh pengakuan atau penilaian dari orang lain. “There are things to confess that enrich the world, and things that need not be said” Joni Mitchell
- Menganggap sukses identik dengan tercapainya tujuan. Tujuan adalah sasaran yang ingin dicapai tetapi itu bukanlah akhir dari perjalanan. Tetapi adalah awal tujuan yang lain. “We are made wise not by the recollection of our past, but by the responsibility for our future” George Bernard Shaw
- Menganggap sukses identik dengan berakhirnya kesulitan. Hidup adalah perjuangan yang penuh dengan rintangan dan tantangan. Yang namanya kesulitan, pasti akan dialami. Yang menjadi masalah, mau atau tidak dihadapi. Jika lari dari kenyataan / tidak mau menghadapinya maka sampai kapanpun juga, kesulitan tersebut selain tidak akan bisa tersirnakan, kwantitasnya juga akan semakin banyak. “In the middle of every difficulty lies opportunity” Albert Einstein. Sukses atau tidak dalam hidup ini, andalah yang tahu / penentunya. “Attaining peace of mind, happiness and good relationships also mean success” Remez Sasson




